Sejarah desa bulay

                       Sejarah Singkat Desa Bulay Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan

                                             Gambar tampak dari depan balai desa bulay
 

Desa Bulay ini berasal dari kata “Bhu” dan “Ley”. Bhu disini artinya adalah ibu-ibu dan Ley dalam bahasa disana adalah Ley-Ley yang artinya cerewet atau banyak bicara. Dari dua kata tersebut dapat di artikan bahwa dulu masyarakat Bulay, masyarakat golongan ibu-ibu banyak bicara atau cerewet katanya. Tapi cerita ini tidak diterima kebenarannya oleh sebagian masyarakat Bulay. Sedangkan dalam versi anak muda Bulay itu berasal dari kata “Bule” orang asing atau orang yang berasal dari luar negeri. Dengan adanya kabar yang tidak jelas bahwa dulu pernah ada orang asing atau bule tersesat di daerah ini dan akhirnya dinamakan Desa Bulay. Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh bapak Suli selaku sekretaris di Desa Bulay:

“Sedikit cerita turun-temurun bahwa dulu desa Bulay ini dominan dengan penduduk ibu-ibu yang suka bergerombol disawah maupun di halaman rumah. Dimanapun bergerombol ibu-ibu selalu cerewet, nah kata bhu berasal dari kata ibu-ibu dan kata ley yang asrtinya cerewet. Tapi berkembang jaman cerita itu tidak diterima oleh masyarakat sekitar yang berkata bahwa nama desa Bulay berasal dari cerita bahwa dulu pernah ada orang asing atau yang biasa disebut bule yang pernah tersesat di desa ini.” 

 Pada umumnya penduduk desa  Bulay mayoritas bermata pencaharian sebagai petani juga merangkap sebagai peternak. Hewan ternak yang dimiliki warga Desa ada berbagai jenis, yakni ada yang melihara sapi, kambing, ayam, dan sebagainya.

Hampir di setiap rumah warga terdapat hewan ternak yang dirawat di kandang masing-masing atau di lahan khusus. Biasanya hewan-hewan tersebut dijual kepada pedagang yang ada di desa atau dikomsumsi sendiri, seperti ayam.  

Mayoritas petani yang merangkap sebagai peternak ini memiliki hewan ternak jenis sapi. Para petani tersebut mengaku bahwa harga sapi cukup mahal jika dibandingkan dengan hewan ternak lainnya, serta dapat dijual kapanpun ketika membutuhkan dana mendesak. Sesuai dengan pernyataan bapak Suli yaitu:

“Masyarakat sini mayoritas petani tiap tahunnya menanam tembakau maupun padi ada juga jagung dan semacamnya, tapi selain bertani mereka juga mempunyai hewan ternak seperti ayam, bebek, sapi maupun kambing yang di pelihara di kandang rumah mereka masing-masing. Sebab jika membutuhkan dana mendesak mereka bisa menjual hewan peliharaannya tersebut.” 

0 Komentar